<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/22176688?origin\x3dhttp://eycxi.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
eycxi@blogspot.com ♥
Monday, October 12, 2009

This is just random. Any similiraties or related to anyone is pure coincidence. No hard feelings aite? Plus I'm entitled to my own opinion.

I've been seeing a huge increase of ladies / girls wearing fake eyelashes. Oh please. Thou it does look nice at times, but with too many ladies / girls wearing it, it's like too common. Get it? Artists, sales girls and even school girls are wearing them.

Why must you be a fakey by wearing these fake lashes? Too much advert about promoting fake eyelashes.

Being female, I know its natural that one wants to look beautiful. But didn't you know that males do want to look at someone who's original. Because eventually, when you get married to the other gender, he will be seeing you without make up as well as without fake eyelashes.

Based on my understanding, as a Muslim, we're not allowed to wear hair extensions. So I'm not too sure if it applies for fake eyelashes. Need to check with my ustaz regarding this.


Memakai Cemara

Yang dimaksudkan dengan memakai cemara ialah memakai rambut tambahan, sama ada daripada rambut lain, nilon atau lain-lain yang digunakan untuk membesarkan sanggul. Ia adalah sebahagian daripada cara menghias diri, khususnya bagi perempuan.

Perbuatan orang yang menyambung rambutnya sendiri dengan rambut yang lain atau meminta disambungkan rambutnya hukumnya adalah haram, tidak kira sama ada perempuan ataupun lelaki.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahawa Allah Subahanahu wa Ta'ala melaknat orang yang melakukannya, bahkan perempuan yang rambutnya gugur kerana sakit atau perempuan yang hendak menjadi pengantin tetap dilarang melakukannya. Ini adalah berdasarkan beberapa hadis shahih, antaranya hadis yang diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha:


Maksudnya: “Seorang perempuan Anshar telah berkahwin, dan sesungguhnya dia sakit sehingga gugur rambutnya, kemudian keluarganya bermaksud untuk menyambung rambutnya. Lalu mereka bertanya dulu kepada Nabi, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang meminta disambungkan rambutnya.” (Hadis riwayat Al-Bukhari)

Dalam satu riwayat yang lain, Asma’ binti Abu Bakar berkata:


Maksudnya: “Seorang perempuan telah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya anak saya terkena suatu penyakit sehingga rambutnya gugur, dan saya akan mengahwinkannya, apakah boleh saya menyambung rambutnya?” Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat perempuan yang menyambung rambut dan yang disambungkan rambutnya”

(Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Penutup
Islam tidak pernah menafikan naluri dan keinginan manusia untuk berhias supaya senang dan sedap dipandang. Akan tetapi itu tidak bermakna Islam memberi ruang secara mutlak untuk setiap orang berhias mengikut selera masing-masing tanpa batasan. Batasan yang digariskan oleh syara‘ itu pula bukanlah semata-mata menyekat kemahuan dan selera manusia. Akan tetapi ianya mengandungi hikmat dan tujuan yang lebih tinggi, seperti memelihara kemurnian aqidah, menjauhkan daripada sifat bermegah-megah, sombong, pembaziran, penipuan dan sebagainya. Semua ini tidak lain dan tidak bukan adalah demi kesejahteraan dan kebaikan manusia itu sendiri.

Taken from http://www.brunet.bn/gov/mufti/irsyad/pelita/2005/ic1_2005.htm

Wallahu'alam